15 Apr

If (PB TES = family) then …

12802828_1152907984750064_4272692122855166415_n

Saya dulu masuk ukm ini emang seneng aja di badminton. Beberapa waktu setelah itu alasan saya di ukm masih sama cuma sekedar hobby. tapi lambat laun seiring berjalannya waktu dan banyaknya kegiatan ukm, alasan untuk bertahan di ukm udah berubah, saya sudah sedikit nyaman dengan atmosfir ukm badminton ini. Saya sebagai mahasiswa normal pada umumnya yang tidak punya jabatan apapun di UKM aja masih bisa seenggaknya ngeluangin waktu buat latihan rutin, acara main, apalagi acara besar kayak TUBSC.

Kok bisa saya ngeluangin waktunya buat PB? Gak ada tugas? Gak ada kesibukan lain?
Yang pertama, Saya masuk ukm bukan cuma pengen sekedar numpang nama yang tanpa adanya kehadiran, yang namanya di tanya komitmen pas wawancara aja saya masih inget dan alhamdulillah saya masih ada di ukm. Nggak seperti beberapa orang yang berkoar akan begini dan begitu tapi nyatanya hilang entah kemana. seenggaknya kalo saya mau ilang dari ukm, saya harus tanggungjawab, apa yang perlu dilakuin untuk itu? Bukan malah ilang tanpa kabar dan datang seenaknya, kalo boleh saya bilang sih itu namanya goblok dan gatau diri!
Yang kedua, masalah tugas dan kuliah? Saya punya segudang tugas besar dan progressnya emang selalu ada dari awal sampai akhir semester dengan dosen yang begitu “baik hati”, dan saya disini termasuk mahasiswa yang ambil kuliah padat (ngambil mata kuliah atas) dengan SKS/Semesternya 22-24.
Yang ketiga, gada kegiatan lain? Saya termasuk salah satu BPH di himpunan, aktif kepanitiaan acara himpunan, dan saya juga salah satu Asisten Dosen.

Jika saya ingin ilang-ilangan dari UKM, alasan tersebut sudah cukup untuk menutupinya. Kalo niat ngeluangin waktu, kita pasti bisa ngatur schedule yang tepat antara tugas, latihan, kepanitiaan dan lain sebagainya.

Ukm badminton dari dulu “katanya” sih kita ukmnya berazaskan “kekeluargaan”.
Sampai tanggal 26 februari saya masih belum paham artinya keluarga itu dimana. Tapi setelah tanggal 27 februari (acara EWA), saya merasa punya keluarga sendiri di telkom, saya ngerasa ada yang peduli sama ukm, dari yang masih bujangan bahkan sampai mereka yang sudah punya keluarga karena ikatan pernikahan.

Dan sekarang kitanya sendiri yang ada didalamnya seperti apa? Latihan jarang, dateng seenaknya, banyak alasan. Yaa tidak semua seperti itu, tapi yang berengsek lebih banyak dari yang menghargai (gausah ngoceh, introspeksi aja diri masing-masing). Kalo kalian merasa bahwa kami adalah keluarga kalian, bantulah untuk memajukan UKM. jika ada masalah di ukm, bicarakan dan kasih solusi, bukan cuma mencaci. Gak ada keluarga yang gak peduli sama saudaranya sendiri. Gak ada keluarga yang ingin menjatuhkan keluarganya sendiri. Gak ada keluarga yang tega dan hanya melihat saudaranya kesusahan sendiri.

Jika kalian hanya menganggap kami sekedar teman, mohon untuk menghargai keluarga kami, jangan hidup seenak jidat kalian, ikuti aturan kami.
Jika masih tidak bisa, kalian bisa pergi dari kehidupan kami segera.

Anggi A – 2014

Share this

Leave a reply